Pelajar Belgia Estelle Arnould Belajar Membatik dan Memoles Keramik di SMKN 5 Yogyakarta
- Sabtu, 27 Juni 2026
- Administrator
- 0 komentar
Organisasi sosial Rotary Club Internasional setiap tahun mempunyai program pertukaran pelajar sedunia atau Student Exchange Program. Ribuan pelajar dari seluruh dunia bertukar tempat untuk belajar dan tinggal tentang bahasa, budaya, dan kehidupan sosial di negara yang sebelumnya belum pernah dikenalnya.
"Setelah lulus dari SMA saya tidak langsung masuk universitas. Tapi mengikuti program Student Exchange. Dan sekarang saya sudah hampir satu tahun tinggal di Yogya. Saya akan kembali ke Belgia akhir Juli nanti. Jujur, saya pasti akan kangen Yogya telah memberi banyak pengalaman baru dan kenangan indah," tuturnya, Rabu (24/6/2026).
"Sebenarnya pilihan pertama saya dulu adalah New Zealand. Namun, setelah berkas diserahkan dan wawancara dilakukan saya mendapatkan negara pilihan kedua, Indonesia. Tetapi, yang dipilihkan untuk saya ternyata Indonesia. Saya tetap senang karena memang pilihan saya" kenang Estelle.
Estelle bercerita bahwa sudah kebiasaan orang tua di Eropa mengharuskan anaknya agar melakukan traveling jauh ke negara yang berbeda kultur sebelum lanjut studi ke perguruan tinggi. Tujuannya, supaya sejak muda mereka mengenal betapa dunia ini luas dan beragam budayanya. "Kami harus belajar memahami berbagai perbedaan dan memahami arti pentingnya toleransi sebagai warga dunia," tuturnya.
Estella Arnould lahir di kota Charloroi, Belgia, pada 17 September 2007 dari orang tua Francois Arnold dan Stephani Lutin. Tinggal di Belgia mengharuskannya bisa tiga bahasa yang menjadi bahasa nasional negaranya: Belanda, Prancis, dan Jerman. Selain itu di sekolah ia belajar Bahasa Inggris dan sekarang Bahasa Indonesia.
"Saya tidak sulit beradaptasi di sini. Sebelumnya saya sudah sering bertemu orang Asia. Mengapa memilih Indonesia? Pertama, karena bahasa dan tulisannya sama. Itu memudahkan saya dalam belajar hal-hal lain. Kedua, ada berbagai keunikan yang memunculkan rasa penasaran dan itu ingin saya pelajari. Misalnya, Candi Borobudur yang salah satu dari 7 keajaiban dunia, atau Bali yang menjadi tujuan wisata populer bagi orang Eropa," ucapnya.
Estella ingat ia pertama kali mengisi formulir Student Exchange Rotary Club Belgia pada 3 Agustus 2025. Setelah berkas lengkap dan Visa keluar ia berangkat. Terbang dari Brussel 9 Agustus 2025 ia mendarat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Selanjutnya bersama terbang ke Yogyakarta untuk menetap bersama orang tua asuh yang member Rotary Club chapter Indonesia.
"Pengalaman paling mengesankan saya selama di Yogya adalah belajar menjahit, membatik, dan membuat keramik di sekolah SMK Negeri 5 Yogyakarta. Semua siswa baik, guru-guru baik. Saya berhasil menyelesaikan dua lembar kain batik buatan saya sendiri. Itu sulit, butuh kesabaran tinggi, tapi saya puas karena saya mampu menyelesaikannya. Karya ini akan saya pulang ke Belgia untuk koleksi di rumah nanti," jelasnya.
Tentang belajar membuat keramik, Estelle juga merasa excited. Selama ini ia hanya melihat berbagai bentuk keramik dalam bentuk jadi. Sudah dalam bentuk cantik dan indah. Tetapi, selalu penasaran bagaimana caranya benda-benda itu dibuat. Rasa penasaran itu terjawab ketika ia praktikum sendiri di SMKN 5 Yogyakarta.

"Saya berhasil membuat tiga produk keramik. Tapi, yang lebih penting saya tahu proses dari awalnya. Dari membuat desain, memilih bahan baku, mengolah adonannya, membentuk dengan tangan sendiri, membakar setelah jadi, sampai membuat ornamen di produk itu. Rasanya seperti sedang menjadi seniman yang serius mewujudkan idenya," tandasnya.
sumber : Yogyapos.com